Kamis, 03 Maret 2016
Di_Dian
Ada yang beda dari hari ini. ya Di kami menantimu, menanti kehadiranmu. Dalam gelap kami selalu berdoa agar kau cepat hadir denganku pelita yang selama ini kau harapkan. Kini tak ada rasa hambar sebab nyala apinya menyambar-nyambar. Lihat saja ranting kayu yang berglayutan ia diam-diam ingin mengajakmu ikut dengannya. Membuat abu kering menyatu dengan alam katanya. Di kembalilah sebab waktu terus berlari-lari semakin cepat dan semakin cepat. Apa kau tak ingat perputaran waktu yang kita bikin sendiri. Kau akan menemuiku pada pukul 12.12 katamu. Ku harap kau bukan maya, transparan yang masih saja tak bisa kulihat. Untukmu Di kuhadirkan pelita dan kuberikan Hujan agar kau tak lupa denganku. Kupesankan air hujan kemarin dan sudah kusiapkan air mataku yang kau-kau tunggu-tunggu sekian tahun yang lalu. Coba saja rasakan pasti berbeda aku tak mengumbar kata sebab aku terlalu lupa mengucap kata kesekian kali untukmu. Teruntukmu Di, hanya aku dan kau saja bukankah begitu?
Jumat, 24 Juli 2015
Israel telah mengubah semua kehidupan dinegara
Palestina menjadihancur berkeping – keping .Peperangan yang terjadi berlarut –
larut dalam kalut ini seakan bertumpah darah dalam deret sekeliling jalan
setapak. Bahkan kedua orang tua Almira Willne harus terenggut nyawanya oleh
kekejaman ini.Antara berserah dan gelisah ia menerima takdir yang menimpanya.
Almira hanyalah seorang gadis kecil yang baru berusia 5 tahun ia tak bisa
melakukan apa – apa selain menangisi kedua orang tuanya. Sehari – hari ia hanya
berkemelut dalam sebuah lindungan panti asuhan di dekat Gaza .
Disinilah ia mengenal Aisyah sebagai ibu
asuh yang sangat mencintainya sama seperti kasih sayang kedua orang tuanya .“
Almira, kini saatnya kau bangkit dari semua kegelisahanmu.Ibu tak mau kau tetap
terpacu dengan kesedihan itu”,ucap Aisyah“ Ibu tahu,itu semua masih terasa
berat bagiku bu.Rasanya keadilalan itu tak pernah memihak kita,bu”, sahut
Almira.“ Kenapa kau berfikir seperti itu Almira,bukankah tuhan selalu memihak
kita.Ketika gundah maupun gembira”, ucap Aisyah.“Iya, bu aku paham Tuhan pada
dasarnya tak pernah tidur melihat kita kesusahan, tapi kenapa bu , Israel
seakan tak pernah habis menghujam negara kita”ucap Almira.“ Kau harus tahu
Almira Israel adalah musuh terbesar bagi kaum islam termasuk Palestina .Mereka
tak pernah mau menyerah sebelum ia dapat melenyapkan negara – negara
islam”,ucap Aisyah.“ Suatu saat nanti ketika aku tumbuh dewasa.Aku akan
berjuang untuk menyelamatkan Palestina dan menyerang Israel sebagaimana akibat
perbuatannya,bu”, sahut Almira menangis mendekap ibu asuhnya.“ Oleh sebab itu
kau harus menjadi wanita yang tangguh dan cerdas selain itu kau harus menjadi
seorang yang berakhlak,agar kelak kau tak tersesat dalam jalan yang salah”, ucap
Aisyah.“Iya, bu Almira janji “,ucap Almira tersenyum.
Beberapa tahun kemudian Almira tumbuh
dewasa sebagai seorang remaja yang cantik dan aktif dalam kegiatan sosialnya di
Palestina.Dan untuk sekian kalinya Palestina harus merasakan pedihnya menghadapi
kekerasan pengeboman nuklir yang dilakukan oleh Israel. Seketika mendengar kabar
tesebut mengenai Palestina.Almira bergegas menuju lokasi pengeboman tersebut
dan membantu korban – korban bercucuran darah dengan kemampuan yang ia bisa.
Tiba – tiba Almira terpanah pada seorang
gadis kecil yang menangisi kedua orang tuanya yang telah pergi. Almira segera
menghampirinya tak tahan menatap tangisan kedua bola mata gadis kecil itu.“
Hai, lihat kakak, gadis manis. Jangan menangis kakak disampingmu”, ucap Almira.“Ayah
dan ibuku,kak.Ia telah pergi meninggalkanku”, ucap Ranouch gadis kecil yang
meneteskan air mata.“ Usap air matamu. Kakak tahu bagaimana perasaanmu aku juga
bernasib sama sepertimu.Ketika aku masih berumur lima tahun orang tuaku harus
terenggut nyawanya oleh ulah israel.Israel telah menghapuskan semua kenangan ku
bersama kedua orang tuaku . Kau harus jadi seorang yang tangguh agar kau kelak
dapat melawan israel. Percayalah Tuhan akan selalu membantumu ketika kau
membutuhkannya”, ucap Almira mendekapnya.
Tiba tiba seorang laki – laki menghampiri
Almira dan gadis kecil itu.“ Hai,apa yang kau lakukan disana.Gadis itu sedang
terluka parah cepat bantu aku membawanya untuk mendapatkan pertolongan” ,sahut
pemuda itu.“ Iya aku akan membantumu membawanya “, ucap Almira tergupuh – gupuh
Setelah lebih dari 3 tahun Fernando
mengenal Almira.Akhirnya Fernando ingin menyatakan perasaannya selama ini yang
ia rasakan pada Almira. Tapi dalam kondisi Fernando yang berkewenagaraan Israel
membuatnya ragu akan cintanya pada Almira.“Al, kau harus tahu tentag aku. Aku
tak ingin terus – menerus menyakitimu dengan segala kesalahanku”, ucap Fernando.“Apa,
aku ingin tahu tentang kejelasan yang ingin kau katakan padaku”,ucap Almira.“Al,
maafkan aku sebelumnya. Aku tak bermaksud untuk berdusta kepadamu namun inilah
kenyataannya aku adalah seorang warga negaraIsrael yang selama ini kau benci.
Terserah kau mauberfikir apa tentang diriku”, ucap Fernando.“ Jujur aku kecewa
denganmu. Kenapa kau tega menyembunyikan semua ini setelah sekian lamanya kau
mengenalku”, ucap Almira kecewa.“ Asal kau tahu Almira,aku melakukan semua
ini,tak sama seperti yang kau bayangkan. Aku ikhlas melakukan semua ini karena
hati nuraniku sendiri. Aku tak pernah mempunyai maksud apapun untuk menghancurkan
Palestina seperti Israel yang kau bayangkan.Ketika aku mengenalmu aku melihatmu
sebagai sosok wanita yang baik kau ajarkan aku kehidupan yangsebenarnya aku
cari selama ini.Kau dekatkan aku pada Allah S.W.T tentang kebesarannya. Terima
kasih Almirauntuk semua yang kau berikan kepada ku.Aku akan pergi dari sisimu
walaupun aku tahu kau adalah sosok wanita yang aku cintai dalam hidupku”, ucap
Fernando.“ Dan asal kau tahu aku juga aku juga sama sepertimu memiliki rasa
yang sama kepadamu tapi maafkan aku. Aku tak mungkin menghianati Palestina
hanya untuk mencintaimu “,ucap Almira.“ Aku akan membantumu Almira. Aku ada di
pihakmu,aku takkan rela melihat kaum muslim terus menerus dalam
kesedihan.Bahkan,nyawaku pun kurelakan.Selamat tinggal Almira”,ucap Fernando
Setelah dua tahun lamanya.Akhirnya
peperangan itu pun dimulai Almira dan rakyat Palestina bertarung melawan Israel dengan samurai yang
bahkan dapat mengahantarkan nyawa mereka sendiri. Goresan dan sayatan – sayatan
Almira berikan pada kaum Israel untuk menumpaskan semua keadilan yang ingin dicapai
Almira.
Samurai itu pun akhirnya menusuk perut Fernando kala melindungi Almira dari kekejaman
ayahnya sendiri. “Al, jaga baik - baik dirimu.Jika kau memang ingin menumpaskan
semua kedzoliman yang ada aku ikhlas kau membunuh semua bangsa Israil. Maafkan
aku Almira aku tak bisa membantumu aku tak mungkin tega menghabisi nyawa ayahku
sendiri. Seburuk – buruknya dia aku tetap menyayanginya dan menghormatinya
sebagai ayahku. Asyhadu allah ila ha
ilalloh wa asyhaduana muhamadarosulluloh”,kata – kata itu yang terakhir
dapat terucap oleh mulut Fernando.“Fernando, kau tak boleh mati aku membutuhkanmu.Fernando
aku ingin kau selalu melindungiku”, ucap
Almira menangis.“ Kini saatnya aku menancapkan samurai itu untuk
menumpaskan nyawamu”, ucap pemimpin Israil itu.“Kau manusia keji!,tak punya
hati nurani.Teganya kau membunuh Fernando darah dagingmu sendiri”, ucap Almira.
Allahu
Akbar!!!Allahu Akbar!!!Samurai yang ada pada genggaman Almira pun terarah pada
pemimpin Israel itu hingga nyawanya melayang dan terjatuh dari kuda yang ia
tunggangi. Almira pun tertunduk tegun dengan tangisan air matanya.
Sabtu, 16 Mei 2015
Meneroka Ruang
Tuhan
Bila
sekali waktu aku membayang petang
lalu
kutemui jalan terang kupupuk rindu yang matang
Tuhan
bila
sekali waktu aku tertidur
dari
lelapnya hingar bingar kota
kubangun
mimpi dari sudut yang paling rindang
Tuhan
bila
sekali waktu aku tepat di bibir pantai
terhempas
arus dan gelombang
kupersilahkan
ia mendamaikan badan
Tuhan
bila
sekali waktu aku memandang hujan
terguyur
air masam yang basah
maka
kujadikan ia kudapan malam
atas
rasa yang telah mampu diterjemahkan
Tuhan
kini
aku lalu lalang mencari norma batas rentang
meraba
bayang-bayang senja
dan
kutemukan maya
Surabaya, 8 Mei 2015
06:15
Kamis, 12 Maret 2015
Pena Malam
Tiap malam ia bersyairMembagikan ruang di tengah kesunyian
Menaburi bintang sebagai solek malam hari
Membayang kisah-kisah kesyahduan
Mengingat dulu pernah bercinta, memajang kisah yang berbingkai
Kini hidup merajang lelah, hendak berulah pada siapa
Baik susah maupun duka hendak dipikul punggung sendiri
Rabu, 19 November 2014
kumpus dan kenangan "Di"
Di
Di,,
kupandangi kau lebih tajam
Lebih
tajam Di, sangat-sangat tajam, bahkan hanya dirimu yang kupandang paling tajam
Di
awalnya aku hanya menggambar kepalamu, dan mengarsir rambutmu
Namun Di
Setidaknya
kau harus tahu sekarang bahwa aku menjadi seorang pecandu
Yang
seakan ketagihan memandang dan menggambarmu setiap hari Di
Di kini
mulai kulanjutkan menggambarmu lagi
Membentuk
telingamu, memnbentuk alismu, membentuk matamu, membentuk hidungmu, dan
membentuk bibirmu
Di kini
aku telah usai menggambarmu
Aku
bahagia sekarang Di
Bisa
memandangmu setiap hari
Menyapamu
bahkan merabamu
Di tapi
aku mulai risau ketika kulihat matamu berlinang air mata
Apa kau
menangis Di
Apa kau
tak suka kulukis dikanvas
Di,
setiap hari kuusap pipimu yang basah oleh air mata
Tapi kau
tak pernah usai menangis
Di, aku
tak bisa membuang pandanganku
Di, aku
juga tak sanggup membakar pandanganku
Di,
tenanglah aku tak akan mengganggumu
Aku tak
akan mengusikmu
Tenanglah
Di,
Aku
hanya ingin memandangmu
Sebagai
seorang yang kucinta walau tanpa sosok yang nyata
Surabaya, 28 Oktober 2014
kumpus dan kenangan "Di"
Di
Di,,
kupandangi kau lebih tajam
Lebih
tajam Di, sangat-sangat tajam, bahkan hanya dirimu yang kupandang paling tajam
Di
awalnya aku hanya menggambar kepalamu, dan mengarsir rambutmu
Namun Di
Setidaknya
kau harus tahu sekarang bahwa aku menjadi seorang pecandu
Yang
seakan ketagihan memandang dan menggambarmu setiap hari Di
Di kini
mulai kulanjutkan menggambarmu lagi
Membentuk
telingamu, memnbentuk alismu, membentuk matamu, membentuk hidungmu, dan
membentuk bibirmu
Di kini
aku telah usai menggambarmu
Aku
bahagia sekarang Di
Bisa
memandangmu setiap hari
Menyapamu
bahkan merabamu
Di tapi
aku mulai risau ketika kulihat matamu berlinang air mata
Apa kau
menangis Di
Apa kau
tak suka kulukis dikanvas
Di,
setiap hari kuusap pipimu yang basah oleh air mata
Tapi kau
tak pernah usai menangis
Di, aku
tak bisa membuang pandanganku
Di, aku
juga tak sanggup membakar pandanganku
Di,
tenanglah aku tak akan mengganggumu
Aku tak
akan mengusikmu
Tenanglah
Di,
Aku
hanya ingin memandangmu
Sebagai
seorang yang kucinta walau tanpa sosok yang nyata
Surabaya, 28 Oktober 2014
Jumat, 14 November 2014
Tak Lagi tentang Senja
Tak mau lagi menjadi obsesi Senja
Mengigiringi sajak pertemuan
melalui senja
Orang terlampau gila menuai
perhara apapun menulis tentang senja
Dan keberuntungan memang benar
milik Alina
Dia telah menggenggam Senja
yang diberikan Seno untuknya
Sedang yang lain adalah sisa-sisa
dari Senja Alina
Dan kini tinggal solitude bagi
penikmat Senja
Aku tak lagi menunjuk Senja
sebagai pemanis sore
Melainkan kiasan pelengkap
rima yang ompong
Yang ada tinggallah Di
Tinta pena seorang diri
Langganan:
Postingan (Atom)